Saya adalah seorang anak ke 4 dari sepuluh adik-beradik,dulunya seorang guru dan mengajar selama 8 tahun,namun atas permintaan suami,saya berhenti untuk menumpukan perhatian pada anak-anak dan rumahtangga,suami saya berkerja di Kuala Lumpur dan pulang hanya 2 minggu sekali,Alhamdulillah kami di kurniakan dengan rumahtangga yang bahagia...pada awal nya kedua ibubapa saya tidak bersetuju dengan keputusan saya untuk berhenti mengajar..puas saya memujuk namun mereka tetap berkecil hati dengan keputusan saya..namun apalah daya,saya hanya seorang anak perempuan yang wajib patuh pada suami. Ibu saya baru sahaja kembali ke pangkuan Ilahi pada 7 Muharram 1430H yang lalu,kerana komplikasi penyakit jantung,semasa hayat nya ibu saya seorang yang cukup sabar dalam melayani karenah anak-anak..sebagai anak dan isteri terkadang terbit rasa salah terhadap ibu dan bapa,kerana selama 17 tahun saya berkahwin saya tidak pernah lagi menyambut hari raya aidilfitri dengan nya kerana saya mengikut suami pulang berhari raya dengan kelurga mertua,memandangkan suami saya tidak mempunyai bilangan adik-beradik yang ramai dan merupakan anak lelaki sulung dalam keluarga nya jadi kami mengambil keputusan untuk berhari raya dengan sebelah mertua saya saban tahun. Tanpa kepulangan kami pasti keluarga mertua saya akan menyambut raya berdua sahaja,ini kerana adik-adik suami saya juga biasa ye mengikut suami masing-masing. Tetapi menjadi kebiasaan kami untuk pulang ke rumah ibubapa saya terlebih dahulu sebelum kami berangkat ke rumah mertua saya.Kami akan bermalam beberapa hari di sana. Namun yang menjadi ingatan saya dan terbit rasa terkilan,bila ibu berpesan sebelum akhir hayatnya dan menyatakan bahawa ibu telah lama memaafkan saya dan berbangga kerana saya selalu menyayangi nya. Pesan ibu.." Jangan sesekali kau meningkah kata suami,jangan sesekali kau kecilkan hati mertua,kalau marah ibu kandung tidak sampai ke hati..tetapi ibu mertua tak tahu hati budi nya,jangan sampai tak berkat hidup kau dunia akhirat..Kau telah kahwini anak nya,itu bermakna kau kahwini keluarga nya,Berkahwin maknanya kau berkongsi hidup dengan nya..berkongsi segala-galanya..susah-senang nya,suka duka nya,gelak tawa nya..dan kehidupan nya...Jangan kau ungkit apa yang telah kau lakukan untuk nya..tapi ingatlah..Syurga kau bukan pada ibu...tapi syurga kau kini terletak di kaki suami...pada hati mertua...Sayangi mertua kau seperti mana kau sayang ibu..." Untuk rakan-rakan yang masih ada ibu..sayangi lah mereka..jangan sekali-kali kau lupa..kerana doa ibu sentiasa ada untuk kita..... From:"roshid_72"
Dalam sebuah riwayat diceritakan, pada suatu hari Luqman Hakim telah masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor himar, manakala anaknya mengikut dari belakang.
Melihat tingkah laku Luqman itu, setengah orang pun berkata, 'Lihat itu orang tua yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki."
Setelah mendengarkan desas-desus dari orang ramai maka Luqman pun turun dari himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu.
Melihat yang demikian, maka orang di pasar itu berkata pula, "Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya enak enakan menaiki himar itu, sungguh kurang ajar anak itu."
Sebaik saja mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik ke atas belakang himar itu bersama-sama dengan anaknya.
Kemudian orang ramai pula berkata lagi, "Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, adalah sungguh menyiksa himar itu."
Oleh karena tidak suka mendengar perkataan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, "Dua orang berjalan kaki, sedangkan himar itu tidak dikenderai."
Dalam perjalanan mereka kedua beranak itu pulang ke rumah, Luqman Hakim telah menasehati anaknya tentang sikap manusia dan telatah mereka, katanya, "Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia.
Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah S.W.T saja.
Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam setiap mengambil tindakan."
Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya, "Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir.
Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang) dan hilang kemuliaan hatinya (kepribadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya."
Selesai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat
ziarah ke mesjidil Aqsa.
Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari
pedagang tua di dekat mesjidil Haram.
Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat
sebutir kurma tergeletak didekat timbangan.
Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim
memungut dan memakannya.
Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa. 4 Bulan
kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa.
Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada
sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra.
Ia shalat dan berdoa khusuk sekali. Tiba tiba ia mendengar
percakapan dua Malaikat tentang dirinya.
"Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara
yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT,"
kata malaikat yang satu.
"Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan
yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari
meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram," jawab
malaikat yang satu lagi.
Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama
4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin
amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT
gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya.
"Astaghfirullahal adzhim" Ibrahim beristighfar.
Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui
pedagang tua penjual kurma.
Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah
ditelannya.
Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual
kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang
tua itu melainkan seorang anak muda. "4 bulan yang lalu saya
membeli kurma disini dari seorang pedagang tua.
kemana ia sekarang ?" tanya Ibrahim.
"Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan
pekerjaannya berdagang kurma" jawab anak muda itu.
"Innalillahi wa innailaihi roji'un, kalau begitu kepada
siapa saya meminta penghalalan ?".
Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak
muda itu mendengarkan penuh minat.
"Nah, begitulah" kata ibrahim setelah bercerita,
"Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau
menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku
makan tanpa izinnya?"..
"Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi
entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang.
Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka
mempunyai hak waris sama dengan saya."
"Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka
satu persatu."
Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui..
Biar berjauhan, akhirnya selesai juga.
Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka
yang termakan oleh ibrahim.
4 bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah
kubah Sakhra.
Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar
lagi bercakap cakap.
"Itulah ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara
makan sebutir kurma milik orang lain."
"O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah
mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu.
Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran
sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain.
Sekarang ia sudah bebas."
"Apabila anda mempunyai teman atau saudara yang anda sayangi
forward-lah e-mail ini.
Oleh sebab itu berhati-hatilah dgn makanan yg masuk ke tubuh
kita, sudah halal-kah? lebih baik tinggalkan bila
ragu-ragu..."
Pada hadits yang lain S.A.W bersabda; ‘Siapa yang merampas hak orang Islam dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkannya masuk surga.. Seorang laki-laki bertanya, walaupun sedikit ya Rasulullah? Nabi menjawab, walaupun sebatang kayu sugi.’ (Riwayat Muslim).
-BerPesaN-pesaN SesaMa InSaN-

